Senin, 22 Desember 2025

Rumah Baca Cahaya Ilmu, Manifestasi Cinta untuk Ananda

 


Oleh. Srie Umma Kayshwa 


Literasi bukan sekadar kemampuan mengeja kata, melainkan jembatan yang menghubungkan seseorang dengan dunia yang lebih luas. Di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, jembatan itu dibangun dengan penuh ketelatenan oleh seorang perempuan melalui sebuah ruang bernama Rumah Baca Cahaya Ilmu. Perjalanan yang dimulai dari sebuah koper berisi buku pribadi kini telah bertransformasi menjadi mercusuar pengetahuan bagi masyarakat sekitar.


Jejak Hijrah dan Koper Berisi Mimpi (2011-2012).


Kisah ini bermula pada penghujung tahun 2011. Sang pendiri memutuskan untuk melakukan "hijrah", mengikuti langkah suami yang bertugas di Tanah Bumbu. Perpindahan geografis ini membawa konsekuensi yang tak terduga: akses terhadap buku-buku berkualitas terasa sangat jauh dan terbatas. Bagi seorang pecinta literasi, ketiadaan akses informasi adalah sebuah dahaga yang menyiksa. Apalagi ada buah hati tercinta yang sudah dibiasakan untuk akrab dengan buku waktu masih tinggal di rumah lamanya.


Tak ingin menyerah pada keadaan, ia memboyong koleksi buku pribadinya dari rumah lama ke tempat tinggal yang baru. Niatnya sederhana, ia ingin putri kesayangan dan anak-anak di sekitar lingkungan barunya tetap bisa mencecap manisnya ilmu pengetahuan meskipun jauh dari pusat kota besar.


Memasuki tahun 2012, semangat itu semakin menguat. Sadar bahwa koleksi pribadi saja tidak cukup, ia mulai memutar otak untuk menyediakan buku-buku bermutu secara berkelanjutan. Langkah unik pun diambil; ia mendaftarkan diri menjadi Book Advisor sebuah penerbit buku anak ternama. Tujuannya bukan semata-mata mencari keuntungan finansial, melainkan agar bisa mengakses buku-buku edukatif dengan lebih mudah. Ia bahkan menjalankan program menabung khusus untuk membeli buku, sebuah ikhtiar luar biasa demi memastikan rak-rak bukunya selalu terisi dengan bacaan yang relevan dan mencerdaskan.


Dari Are Roya Learning Center Menuju Cahaya Ilmu


Seiring berjalannya waktu, rumah tersebut tak lagi sekadar tempat meminjam buku. Interaksi yang intens dengan anak-anak memunculkan kebutuhan akan bimbingan belajar. Menanggapi permintaan tersebut, berdirilah sebuah unit bimbingan belajar yang diberi nama Are Roya Learning Center. Nama "Are Roya" diambil dari nama anak pertamanya, Roya Kayla, sebuah simbol bahwa tempat ini dikelola dengan kasih sayang dan semangat keibuan yang tulus, bentuk cinta seorang ibu terhadap buah hatinya.


Di sini, pendidikan karakter berjalan beriringan dengan kemampuan akademik. Namun, sang pendiri menyadari bahwa identitas sebagai "rumah baca" harus lebih diperkuat agar jangkauannya lebih luas, tidak hanya bagi mereka yang ikut bimbingan belajar. Maka, pada tahun 2017, sebuah perubahan besar dilakukan. Are Roya Learning Center berganti nama menjadi Rumah Baca Cahaya Ilmu.


Nama baru ini membawa misi yang lebih filosofis: menjadi "Cahaya" yang mengusir gelapnya kebodohan melalui "Ilmu". Perlu ditekankan bahwa hingga titik ini, semua koleksi buku dibeli menggunakan dana pribadi. Setiap lembar buku yang terpajang adalah hasil dari keringat, tabungan, dan dedikasi sang founder yang menyisihkan pendapatan pribadinya demi melancarkan misi untuk membumikan literasi.


Rumah Baca Cahaya Ilmu memahami bahwa zaman terus bergerak. Jika dulu literasi hanya soal duduk diam dan membaca, kini literasi harus bersifat dinamis dan adaptif. Untuk merangkul generasi muda yang lebih akrab dengan gawai, Rumah Baca Cahaya Ilmu melakukan inovasi program yang melampaui kegiatan pinjam-baca konvensional.


Mereka menyelenggarakan berbagai kelas online yang dirancang untuk membekali para member dengan keterampilan abad ke-21. Program-program unggulan tersebut meliputi:

Kelas kepenulisan yang engajarkan anggota cara merangkai gagasan menjadi tulisan yang berdaya.


Kelas desain grafis, memberikan bekal visual agar para member mampu berkomunikasi melalui medium digital yang menarik.


Ketiga kelas fotograf, yang melatih ketajaman mata dan rasa dalam menangkap momen sebagai bagian dari literasi visual.


Dengan adanya kelas-kelas ini, Rumah Baca Cahaya Ilmu telah membuktikan bahwa keterbatasan jarak geografis bukan lagi penghalang untuk terus belajar dan berkarya.


Rumah Baca Cahaya Ilmu tidak hanya fokus pada pengenalan literasi terhadap anak dan remaja, namun juga memiliki progam yang merangkul kaum ibu. Mak Darsi merupakan akronim dari Emak Sadar Literasi, yang menemani ibu-ibu untuk berproses, sehingga bisa satu ritme dengan putra putrinya yang beranjak remaja. Anak-anak gen Z yang lekat dengan teknologi tentu perlu diimbangi dengan keterbukaan dan Sri orang tua khususnya ibu agar bisa mengikuti perkembangan mereka.


Buah Kesabaran: Pengakuan Nasional (2024)

Dua belas tahun konsistensi bukanlah waktu yang singkat. Perjuangan sunyi yang dilakukan dari sudut Tanah Bumbu akhirnya bergema ke tingkat nasional. Tahun 2024 menjadi tahun keemasan bagi Rumah Baca Cahaya Ilmu. Setelah bertahun-tahun mengandalkan kocek pribadi, kerja keras mereka mendapatkan apresiasi luar biasa dari pemerintah.


Rumah Baca Cahaya Ilmu terpilih menjadi salah satu penerima hibah 1000 buku dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas). Tambahan amunisi literasi ini sangat berarti bagi perkembangan koleksi mereka. Tak hanya itu, dedikasi sang founder dalam mengelola komunitas juga diganjar dengan Apresiasi untuk Komunitas Literasi dari Pusat Pembinaan (Pusbin) Bahasa.


Penghargaan ini menjadi bukti sahih bahwa apa yang dimulai dengan niat baik dan konsistensi akan menemukan jalannya untuk diakui dunia. Koleksi yang awalnya hanya segenggam, kini telah berkembang pesat menjadi 1.800-an buku. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan jumlah 1.800 pintu yang siap membawa anak-anak Tanah Bumbu menuju masa depan yang lebih cerah.


Kisah Rumah Baca Cahaya Ilmu adalah pengingat bagi kita semua bahwa keterbatasan akses bukanlah alasan untuk berhenti berbagi ilmu. Berawal dari satu koper buku dan semangat menabung, kini ia telah berdiri tegak sebagai institusi literasi.


Rumah baca ini bukan sekadar gedung atau tumpukan kertas. Ia adalah bukti bahwa seorang ibu, seorang istri, dan seorang warga negara mampu mengubah lingkungan sekitarnya melalui kekuatan buku. Cahaya Ilmu telah membuktikan bahwa dari pinggiran, sebuah perubahan besar bisa dimulai.


Ke depan, Rumah Baca Cahaya Ilmu bercita-cita untuk terus memperluas jaringan membernya dan meningkatkan kualitas kelas-kelas kreatif yang mereka miliki. Dengan dukungan koleksi 1.800 buku dan pengakuan dari instansi nasional, semangat untuk terus menerangi Tanah Bumbu dengan ilmu pengetahuan tidak akan pernah padam. Karena di setiap halaman buku yang dibalik oleh seorang anak di sana, ada harapan baru yang tumbuh untuk Indonesia.


Dengan visi berkolaborasi untuk membumikan literasi, mulai dari keluarga untuk nusa dan bangsa, Rumah Baca Cahaya Ilmu tidak lelah untuk terus berproses. Tumbuh dan berkembang, menebarkan cinta dan habbit membaca sejak dini.



Salam Literasi 


Rumah Baca Cahaya Ilmu, Manifestasi Cinta untuk Ananda

  Oleh. Srie Umma Kayshwa  Literasi bukan sekadar kemampuan mengeja kata, melainkan jembatan yang menghubungkan seseorang dengan dunia yang ...